masjidil haram dan masjid nabawi

MASJID AL-HARAM DI MEKKAH
DAN MESJID NABAWI DI MEDINAH

Proyek pengembangan pembangunan Kota Suci Mekkah dan Medinah mendapat perhatian istimewa dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi, baik sewaktu Raja Abdul Aziz Al Saud, maupun putra-putranya yang memerintah kemudian.

Pembangunan kedua kota suci secara besar-besaran dimulai sejak Raja Faisal bin Abdul Aziz, Raja Khalid dan diteruskan oleh Raja Fahd sekarang ini. Sejarah mencatat bahwa proyek pengembangan dua tempat
suci termasuk pembangunan Masya’ir Muqaddasah, tempat-tempat pelaksanaan Manasik Haji, Arafat, Muzdalifah dan Mina dari tahun ke tahun berkembang dengan pesat.

Sebelum Raja Abdul Aziz memerintah, luas Mesjid Al-Haram hanya 12.000 meter persegi yang hanya dapat menampung sekitar 20.000 orang dan tempat Tawaf di sekeliling Ka’bah hanya mampu menampung 3.500 orang.

Pada masa Raja Abdul Aziz, perintah perluasan Mesjid Al-Haram dikeluarkan, mengingat pada waktu itu jemaah haji meningkat setiap tahun. Mas’a (tempat Sa’i) juga diperluas dan dibangunlah konstruksi mesdjid bertingkat dengan luas 211.000 meter persegi diluar bangunan lama yang masih tetap dipertahankan. Tempat Tawaf dapat menampung 38.000 orang. Tempat Sa’i dibangun bertingkat untuk mengurangi kepadatan di lantai bawah.

Tiga puluh tahun kemudian, arus jemaah haji setiap tahun semakin meningkat, dan Mesjid Al-Haram sudah terasa sempit.

Pada tahun 1979, Dewan Kerajaan menetapkan mengadakan riset bagi pembebasan tanah disekeliling Mesjid Al-Haram. Pilihan jatuh pada daerah Suuq Saghir, sebelah Barat Mesjid Al-Haram denganluas tanah
31.720 meter persegi dengan ganti rugi sebesar SR 600.000.000 (US $160.000.000).

Pada bulan Ramadhan 1403 H/1983 M pembebasan tanah selesai diproses dengan membayar ganti rugi kepada sipemilik tanah dikawasan perluasan mesjid. 31.000 M2 dipakai untuk perluasan Mesjid dan 720 untuk perluasan jalan. Sejak itu, terbentanglah halaman luas dengan daya tampung ratusan ribuan jemaah dengan berbagai fasilitas.

PEMANFAATAN LANTAI ATAS (ROOF).

Untuk meningkatkan daya tampung Mesjid Al-Haram, Raja Fahd pada tahun 1405 H/1985 menginstruksikan supaya lantai atas (roof) dapat dimanfaatkan untuk tempat shalat, dipasang marmar anti panas dan
dibangun eskalator(tangga berjalan). Dalam tempo kurang setahun perbaikan roof sudah selesai dan diresmikan pemakaiannya pada tanggal 1 Ramadhan 1406 H/1986 dengan mengadakan Shalat Tarawih. Roof Mesjid Al-Haram ini dapat menampung 80.000 jemaah.

Direktorat Jendral Urusan Al-Haramain pada tahap ke-4 (1985-1990) rencana pembangunan Mesjid Haram memperluas lagi halaman di daerah Syamiyah dan Syubaikah yang dapat menampung 500.000 orang.

Untuk pembebasan tanah tersebut Sidang Kabinet tanggal 29/6/1405 H (1985) menetapkan ganti rugi sebesar SR 1.133.000.000 (US $302.134.000).

Seperti yang kita lihat sekarang program tersebut sedang berjalan bahkan daerah pasar mas lama, sekarang telah menjadi halaman luas dengan marmar anti panas yang dapat pula menampung ribuan jemaah.

Raja Fahd pada tanggal 13 September 1988 telah meletakkan “batu pertama” pembangunan perluasan Mesjid Al Haram.

Rencana perluasan meliputi 57.000 meter persegi dengan totalbiaya sebesar SR 6,8 milyar. Lokasi pembangunan perluasan Mesjid terletak disebelah Barat antara Bab Malik, Bab Umrah dan Suuq Saghir yang
terdiri dari lantai dasar, tingkat pertama dan roof yang dapat menampung sekitar 140.000 orang jemaah. Dibangun pula beberapa buah menara baru setinggi 89 meter sama tingginya dengan 7 menara yang sudah
ada.

Setelah pembangunan annex (tambahan) ini selesai akan dapat menampung 605.000 orang dari seluruh dunia ditambah 65.000 orang yang shalat di halaman. Luas keseluruhan Mesjid Al-Haram menjadi 309.000 meter persegi.

Selain itu proyek perluasan Mesjid Al-Haram meliputi pula pembangunan jalan-jalan disekitar Mesjid, penampungan air bersih, pembuangan air kotor, penanggulangan banjir, listrik, AC central dan anti kebakaran.

TEROWONGAN RAKSASA

Untuk memudahkan lalu lintas mobil puluhan terowongan dibangun menembusi gunung-gunung batu diseputar Mekkah menuju daerah Masya’ir Muqaddasah (Mina, Muzdalifah dan Arafat). Jalan tol, ring road dan
free-way baru sekeliling kota Mekkah tahun 1410 H/1990 ini sudah siap berfungsi, meskipun masih belum selesai secara keseluruhan, namun sudah dapat dimanfaatkan.

Ring Road Makkah berfungsi untuk mengurangi kepadatan lalu lintas menembusi gunung-gunung batu menuju ke Mina dan Arafat. 9 jalur, dengan tambahan 1 jalur tahun ini merupakan jalan tol bebas hambatan
(free-way). Pembangunan Ring Road baru di Arafat tahun ini juga sudah berfungsi.

2 terowongan pejalan kaki antara Mina dengan Babus Salam mempermudah jemaah haji melakukan Tawaf Ifadah. Sekarang tempat pejalan kaki yang menuju terowongan tersebut dilindungi dengan atap anti terik panas matahari.

Terowongan menembus gunung-gunung batu itu dikerjakan oleh tenaga ahli dan tekninisi Turki, bekerjasama denga perusahaan kontraktor nasional Saudi.

FASILITAS MESJID AL-HARAM

Untuk memperindah dan ketenangan umat Islam beribadah mesjid Al-Haram dilengkapi dengan kipas angin, jam, karpet merah, 4 buah jembatan lintas diatas Tempat Sa’i(Mas’a), lift khusus untuk orang cacat dan
lanjut usia, ruangan khusus ber-AC bagi tamu-tamu negara dan
perpustakaan disamping Mesjid Al-Haram.

Untuk menerangi seluruh Mesjid Al-Haram diperlukan 8 megawat listrik terdiri dari lebih 40.000 buah lampu kristal, lampu neon dan lampu sorot, sehingga seluruh ruangan Mesjid Al-Haram bermandikan cahaya,
dengan 35.000 meter kabel.

SEJARAH SUMUR ZAM ZAM

Setiap umat Islam mengetahui tentang adanya air Zamzam dan setiap jemaah haji dapat membawa air zamzam kekampung halamannya untuk dinikmati famili dan sebagai obat.

Dengan kekuasaan Allah SWT, selama ribuan tahun sumur Zamzam tidak pernah kering dan habis. Sejarah Zamzam berkaitan erat dengan sejarah Baitullah Al-Haram. Sumur yang membawa berkah ini mempunyai kisah yang sangat panjang, baik sewaktu Nabi Ismail maupun sebelum dan sesudah Nabi Muhammad SAW sampai sekarang ini.

Apa yang terjadi sepanjang masa itu?

Ketika Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS sedang menyusukan putranya, Ismail AS tiba-tiba air susunya kering dan Ismail menjerit-jerit kehausan. Dengan kebingunan Siti Hajar naik ke Bukit Safa dan
berlari-lari sampai ke Bukit Marwa dengan maksud mencari air. Hal demikian dilakukannya sebanyak 7 kali dan ketika sampai di Marwa pada kali ke-7, Siti Hajar mendengar suara gemuruh, turunlah Malaikat
Jibril, dan memukulkan tangannya ke tanah, ada yang meriwatkan memukulkan sayapnya. Dengan kehendak Allah SWT muncullah mata air dan Siti Hajar mengatakan Zamzam, lalu minumlah sepuas-puasnya sehingga air
susunya kembali penuh dan dengan tenang Ismail menyusu sampai puas.

Haripun berjalan terus.

Pada suatu ketika Makkah diperintah oleh Kabilah dari Yaman dibawah pimpinan Madad bin Umar Al-Jurhami, terjadilah pertempuran dengan musuhnya, dia kalah dan bersembunyi di sumur Zamzam.

Menurut riwayat, Madad berusaha menimbuni sumur Zamzam dengan pasir dengan maksud musuh-musuhnya kehausan. Segala harta kekayaannya juga dimasukan kedalam sumur Zamzam, kemudian Madad secara diam-diam kembali ke Yaman.

Setelah itu penduduk Makkah kesulitan air dan berusaha untuk mencari sumber air minum. Sumur Zamzam rupanya sudah tertutup pada waktu itu, tidak di ketahui lokasinya dan tidak muncul-muncul beberapa waktu
lamanya, sampai pada masa Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW menjadi penanggung jawab kota Makkah.

Abdul Muthalib mengangkut air dari luar kota Makkah dengan kantong-kontong air terbuat dari kulit Onta dan memberikannya kepada para pengunjung yang datang ke Makkah.

Pada suatu malam, Abdul Muthalib bermimpi, ada yang menyuruhnya menggali sumur dekat Ka’bah. Tetapi mimpi itu dianggap sebagai mimpi semata-mata, sebagi mainan tidur. Tetapi malam berikutnya beliau
bermimpi kembali seperti mimpi malam sebelumnya dan datang berulang-ulang. Dengan demikian Abdul Muthalib mengumumkan kepada kaumnya tentang adanya mimpi itu. Waktu itu juga beramai-ramai
digalilah sumur Zamzam dan muncullah kembali air Zamzam.

Air Zamzam mempunyai banyak nama diantara yang terkenal adalah Zamzam sendiri, Hazmah Jibril, Sumur Ismail, Al-Asyraq, Al-Atdzam, Barakah, Sayyida, Nafi’ah, Madhnunah, Awwanah, Busyra, Sofiyah, Barrah, Ashmah, Salimah, Maimunah, Mubarokah, Kafiyah, Afiyah, Maghziyah, Thahirah, Mufidah, Murawayah, Muannasah, Tha’amul Tha’am dan Syifak us-Syaqam.

Meminum air Zamzam dinyatakan sendiri oleh Rasulullah SAW sebagai obat segala penyakit dan minuman yang mengenyangkan, mempunyai tatacara meminumnya, disunatkan menghadap ke arah Ka’bah kemudian membaca
Basmallah dan membaca do’a seperti yang diriwayatkan Ibnu Abbas, artinya “Ya Allah, aku memohon kepada Engkau ilmu yang bermanfaat, rezki yang cukup dan sembuhkanlah dari segala macam penyakit”.

Kalau masa silam para tamu Allah agak sulit mendapatkan air Zamzam, tetapi sekarang siapa saja dengan mudah dapat menikmati air Zamzam yang didinginkan diberbagai tempat di dalam mesjid yang tersedia selama 24 jam. Air Zamzam dapat pula diambil untuk dibawa pulang atau dibawa ke tanah air dan dibagi-bagikan kepada keluarga. Pemerintah Arab Saudi telah mengeluarkan dana sebesar SR 60.000.000 (US $16.000.000) untuk proyek pengadaan air Zamzam.

Umat Islam memandang suci air Zamzam, air yang penuh berkah dan yang paling mulia dimuka bumi.

Rasulullah SAW bersabda : “Air Zamzam adalah air yang terbaik dan termulia di muka bumi ini”.

Dalam masa 5 tahun terakhir ini selama bulan haji rata-rata 1000 M3/jam telah dimanfaatkan oleh jemaah haji dari seluruh dunia yang datang memenuhi panggilan suci Nabi Ibrahim AS.

Sejarah air Zamzam pernah mengalami pasang surut, bahkan hampir kering, yaitu pada tahun 223 H dan tahun 234 H. Kemudian Allah menurunkan hujan lebat, banjirpun melanda Mekkah. Sejak itu hingga sekarang air Zamzam tidak pernah habis.

Lembaga Riset Mesjid Al-Haram mengadakan penelitian tentang sumur Zamzam. Pada tahun 1399 H kedalaman sumur Zamzam dideteksi yang mencapai 15,6 meter, dengan maksud untuk mendinginkan air Zamzam.

Atas pengarahaan Raja Fahd sumur Zamzam diperdalam sehingga menjadi 25,6 meter.

Peneletian laboratarium membuktikan bahwa air Zamzam selamanya murni, tidak pernah ternoda dan bercampur dengan air lainnya. Kadar mineralnya sangat tinggi dan tidak memerlukan pengolahan laboratarium dan dapat langsung di minum.

Menurut saksi mata, ketika terjadi banjir di Mekkah beberapa abad yang lalu, air hujan dan air kotor tidak dapat bercampur dengan air Zamzam, seperti air biasa bercampur dengan minyak. Air Zamzam mencurahkan
kembali air hujan yang masuk kedalam sumur Zamzam dan ini memang suatu keajaiban, sebuah mukjizat.

Sejarah mencatat sumur Zamzam selalu mendapat perhatian dan pemeliharaan dari para Khalifah Islam. Pada tahun 137 H Abu Jakfar Al Mansur melapisi sumur Zamzam dengan bahan semacam semen, kemudian
Khalifah Al-Mahdi memperbaikinya dengan memasang atap. Pada tahun 230 H atap itu dilapisi dengan emas atas perintah Khalifah Al-Mu’tashim. Akhir abad ke IX H, diatas sumur Zamzam dibangun tempat Adzan dari
bahan kayu, kemudian pada tahun 1030 H diganti dengan bangunan permanen sampai tahun 1374 H/1954.

Sekarang diatas sumur Zamzam tidak ada bangunan apapun, hanya ada tulisan “Bi’rul Zamzam”(Sumur Zamzam) yang terletak persis dibawahnya. Kalau kita ingin melihat sumur Zamzam dari dekat dapat turun ke lantai bawah tetapi tidak diperkenankan masuk dan dapat melihatnya dari balik kaca yang dibuat khusus untuk para pengunjung Baitullah Al-Haram. Satu sisi untuk Pria dan sisi lain untuk wanita. Harus diingat, dilarang
memotret.

PEMOTRETAN MATA AIR ZAMZAM

Perkembangan perbaikan sumur Zamzam berjalan terus sesuai dengan perkembangan zaman. Dahulu para jemaah haji bebas mengambil air dengan timba dan bergerombolan ditepi sumur, mulai dari berwudhuk, mandi dan mencuci pakaian sehingga sekeliling sumur kotor dan bahkan masuk ke sumur. Ada jemaah yang usil memasukkan uang tembaga kedalam sumur bahkan ada uang emas, katanya untuk meminta berkat dan bersedekah, entah kepada siapa? Perbuatan sebagian jemaah haji itu kemudian dilarang keras oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi, dan dinyatakan syirik (mempersekutukan Allah) dan tidak sesuai dengan ajaran Islam
(Bid’ah).

Untuk menjaga sumur Zamzam dari pencemaran udara dan kotoran, dibangunlah secara permanen pengamanan sumur Zamzam dari beton, apabila terjadi hujan lebat dan banjir, tidak akan dapat masuk kedalam sumur Zamzam.

Untuk memudahkan para jemaah haji minum air Zamzam, lantai dasar (basement) diperluas dari 135 meter persegi menjadi 1450 meter pesergi diperlengkapi dengan pendingin central dengan 220 kran air untuk pria
dan 120 kran untuk wanita, disamping puluhan kran otomatis disetiap pintu masuk utama ditingkat bawah dan ditingkat atas. Di Mas’a diperlengkapi dengan beratus-ratus Water Cold yang dapat diminum kapan
saja.

Untuk penampungan Zamzam dibangun bak yang dapat menyimpan 10.000 meter kubik air Zamzam dideteksi dengan computer.

Pertama kali dalam sejarah, sumber mata air Zamzam yang keluar dari celah-celah batu dapat dipotret dan difilmkan secara lebih jelas. Mata air Zamzam datang dari dua arah, satu dari arah Ka’bah dan satu lagi
dari arah Jabal Abi Qubais. Pemotretan dilakukan pada akhir tahun 1399 H dan tahun 1400 H, ketika sumur Zamzam dibersihkan dan semua airnya disedot dengan mesin. Ditemukan segala macam bentuk uang logam, emas dan perak dari berbagai priode, tali temali, sandal-sandal, dan lain-lain. Lumpur pasir sumur Zamzam dikerok dan dibuang.

Sejak tahun 1406 H/1984 Raja Fahd mengeluarkan dana untuk pengangkutan 40 ton air Zamzam setiap hari ke Mesjid Nabawi di Medinah dan pada musim haji pengangkutannya berlipat ganda.

PROYEK PERLUASAN MESJID NABAWI DI MEDINAH

Tidak lengkap rasanya dalam artikel ini, apabila tidak dikemukakan selayang pandang tentang perkembangan pembangunan perluasan Mesjid Nabawi di Medinah Al Munawwarah.

Perluasan Mesjid Nabawi yang sedang berjalan sekarang ini adalah yang kelima dilakukan sejak Raja Abdul Aziz, dengan biaya lebih dari 7 milyar Riyal. Pembangunan perluasan ini (annex) langsung diawasi
sendiri oleh Raja Fahd, dimana beliau duduk menjadi penasehat. Setiap tahun Raja Fahd menyempatkan waktunya selama 1 bulan di Medinah mengawasi langsung proyek ini.

langsung proyek ini.

Dalam perkembangan sejarah, perluasan pembangunan Mesjid Rasulullah SAW yang pertama adalah pada tahun ke-7 Hijrah, ketika Rasulullah kembali dari peperangan Khaibar dan pernyataan menganut Islam waktu itu semakin bertambah, dan Rasulullah SAW mengatakan bahwa “sudah seharusnya Mesjid
kita ini diperluas”.

Luas Mesjid waktu itu 1060 meter persegi, diperluas menjadi 2475 meter persegi dengan tambahan 1445 meter persegi, berarti lebih dua kali lipat luas Mesjid semula.

Perluasan kedua adalah pada tahun ke-17 Hijrah, ketika Khalifah Umar bin Khattab mengikuti ucapan Rasulullah diatas membangun perluasannya sebanyak 1100 meter persegi, sehingga luas Mesjid menjadi 3575 meter persegi.

Perluasan ketiga adalah pada tahun ke-29 Hijrah, ketika Khalifah Usman bin Affan meminta pendapat para sahabat untuk meruntuhkan bangunan Mesjid yang lama dan menggantikannya dengan yang baru berdasarkan
kepada Hadist Rasulullah SAW: “Siapa yang membangun Mesjid karena Allah semata, Allah akan membuatkan rumah untuknya di Surga”. Luas Mesjid menjadi 4071 meter persegi, 496 meter persegi lebih luas dari bangunan
sewaktu Umar bin Khattab.

Sejarah terus berjalan. Perbaikan dan pemeliharaan Mesjid Nabawi terus menerus dilakukan. Pada masa Sultan Abdul Hamid Al Kubra, pembangunan Mesjid Nabawi memakan waktu 12 tahun (dari tahun 1265 H-1277 H),
sehingga luas Mesjid waktu itu mencapai 10.302 meter persegi. Dimasa Sutan Abdul Majid dari dinasti Usmaniyah, Turki memerintahkan supaya Mesjid Nabawai dipugar kembali dengan membangun Qubbah yang
megah, dindingnya dihiasi dengan kaligrafi ayat-ayat suci Al Qur’an dan Asma Allah dengan warna yang serasi.

Ketika Raja Abdul Aziz, ayah Raja Fahd memerintah Arab Saudi perluasan terhadap Mesjid Nabawi dilakukan secara besar-besaran.

Kemudian diteruskan oleh Raja Saud, dengan tambahan perluasan 4056 meter persegi, sehingga luasnya menjadi 16.327 meter persegi, Raja Faisal menambah lagi menjadi 30.406 meter persegi dan Raja Khalid
memperluas pula sehingga menjadi 62.807 meter persegi.

Pada tanggal 9 Safar 1405 H/2 Nopember 1984 M, Raja Fahd meletakkan “batu pertama” pembangunan annex (tambahan) lebih 5 kali lipat luas yang dibangun ayahnya, sehingga luasnya akan menjadi 98.500
meter persegi dan dapat memuat 200.000 orang shalat berjemaah sekaligus.

Untuk keperluaan perluasan sekarang ini, pemerintah mengeluarkan dana pembebasan tanah dan ganti rugi perumahan disekitarnya yang mencapai 2 milyar Riyal.

Pembangunan tambahan sekarang dilengkapi dengan pintu-pintu masuk dari samping, marmar anti panas, pilar-pilar yang dihiasi dengan berbagai seni yang sesuai dengan Islam dan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an.

6 buah menara utama setinggi 104 meter dibangun dan akandiperlengkapi dengan cahaya laser yang dapat dilihat dari jarak 50 km.

Pintu-pintunya berjumlah 81 buah pintu masuk, ditambah 8 pintu masuk ke lantai dasar untuk maintenance. Dibangun pula 18 buah tangga dan 4 buah eskalator (tangga berjalan) untuk dapat naik ke lantai dua.

Untuk parkir mobil dibangun gedung berlantai dua yang dapat memuat 4000 buah mobil secara serentak.

Untuk memudahkan para jemaah mengambil air wudhukdibangun kran-kran otomatis dilantai bawah dan disekitar Mesjid Nabawi.

Riyadh, 3 Zulhijjah 1410 H/25 J u n i 1990 M

Sumber:

1. Al-Bilad, harian, 11 Juni 1990
2. Alam Assaudiyah, majalah, April 1990
3. Sejarah Zamzam, karangan Ir. Yahya Hamzah Kosyak.

5 Tanggapan to “masjidil haram dan masjid nabawi”

  1. Syukron infonya…

  2. Alhamdulillah, setelah saya mendapat anugerah dan dipilih Allah SWT, bisa melaksanakan ibadah rukun Islam yang kelima bersama istri, sungguh syukur dan nikmat tak terhingga, datang dan bersimpuh di masjid Allah yaitu Masjidil Haram dan Masjid Rosul Yang Agung yaitu Masjid Nabawi, rasanya tak ingin meninggalkannya sedetikpun dan saya berangan dan berharap kapan Allah SWT memilihku bisa bersimpuh lagi bersama istri dan anak-anaku. Insya Allah

  3. Artkelnya bagus sekali, maaf, bisa minta izin diposting ke blogku dan diperbanyak, (sumbernya tetap dicantumkan), syukron

  4. tks untuk infonya, sangat bermanfaat, dan moga jadi amal jariyah anda penulisnya. tapi sedikit pertanyaan saya, pertama, Abdul Muthalib itu setahu saya kakek nabi Muhammad saw, bukan pamannya.Kedua, dalam kisah yang saya baca, setahu saya, air zamzam itu memancar ketika bayi Nabi Ismail menghentak-hentakkan kakinya ke tanah…..mohon dikoreksi jika saya salah….wasalam…

  5. omprast Says:

    Apakah ada yang pernah melihat tayangan di tv (Indosiar), film dokumenter perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ?. Bagian yg saya ingat, adalah pemerintah Saudi Arabia sampai bikin pabrik (kalo gak salah pabrik lantai) khusus untuk pembangunan 2 masjid tersebut. Terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: